Senin, 13 Februari 2012

Makalah Konsep Pendidikan Anak Dalam Islam (Perpsektif Imam Al-Ghazali)

Pendahuluan
Bersamaan dengan berputarnya dunia dan kemajuan modernisasi serta perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin hari semakin berkembang yang akhir-akhir ini, banyak kita lihat para generasi Islam khususnya sudah mulai tidak mengenal para tokoh Islam yang sangat dan dapat memberi pengaruh terhadap kemajuan dunia pendidikan, mereka kadang-kadang hanya bisa menghina, meremehkan bahkan mengatakan dimana tokoh islam? Ini sebenarnya terjadi karena mereka sangat tidak bahkan kurang mengenal sama sekali terhadap beberapa tokoh Islam yang telah berhasil mencetak generasi yang tidak kalah hebatnya dengan tokoh pendidikan non muslim dalam mencetak generasi yang berakhlaq-ul-karimah, disiplin, dan terhormat, serta bermanfaat untuk kepentingan agama, nusa dan bangsa.
Dengan berpandangan pada beberapa hal tersebut mengenal para tokoh pendidikan Islam adalah merupakan salah satu langkah yang seharusnya kita lakukan dan kita miliki dan kita hayati serta merupakan kebanggaan kita sebagai muslim yang dengan semestinya untuk selalu mengangkat dan mensosialisasikannya di kalangan umum. Sehingga generasi penerus Islam bisa bersuara lantang bahwa kita mempunyai tokoh yang pantas untuk dijunjung tinggi dan salah satu tokoh yang bagus metode serta konsepnya adalah Imam al-Ghazali.[1]

Pembahasan

      1.      Latar Belakang Imam Al-Ghazali
Imam al-Ghazali, nama lengkapnya adalah Muhammad Ibnu Ahmad, Abu Hamid al-Thus al-Ghazali. Ia lahir pada tahun 1058 M (450 H) di Ghazaleh, sebuah desa kecil dekat Thus, wilayah Khurasan di Timur Laut Iran, suatu daerah yang pada masa itu berperan penting sebagai salah satu pusat ilmu pengetahuan Islam.[2]
Imam al-Ghazali adalah salah satu tokoh muslim yang pemikirannya sangat luas dan mendalam dalam berbagai hal, diantaranya adalah dalam masalah pendidikan. Pada hakikatnya usaha pendidikan menurut Imam al-Ghazali  adalah dengan mementingkan beberapa hal yang terkai dan mewujudkannya secara utuh dan terpadu karena konsep pendidikan yang dikembangkannya berawal dari kandungan ajaran islam dan tradisi islam yang berprinsip pada pendidikan diri manusia secara utuh.[3]
Imam al-Ghazali, seorang yang memiliki kejeniusan luar biasa, yang tumbuh ditengah-tengah peradaban Islam yang subur. Imam al-Ghazali yang telah mempengaruhi pemikiran dan kehidupan umat Islam dengan pemikirannya yang cemerlang, dalam upaya mencapai puncak dari segala tujuan. Imam al-Ghazali dikenal sebagai orang yang terkendali oleh jiwa agamis dan sufi, yang keduanya telah membuat Imam al-Ghazali mencari jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mencari kebahagiaan akhirat.[4]
      2.      Signifikansi Akhlak Menurut Imam Al-Ghazali
Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin menyatakan bahwa: “Akhlak atau perangai adalah sesuatu yang tetap dalam jiwa yang daripadanya muncul perbuatan-perbuatan tanpa membutuhkan daya pikir (tanpa direncanakan sebelumnya).”[5]
Dalam pendidikan Islam, pembinaan akhlak menjadi salah satu upaya pendidikan yang utama. Dengan demikian upaya pendidikan Islam adalah mendidik seseorang berakhlak mulia, berilmu pengetahuan, dan terampil mengamalkan ilmunya, guna kepentingan tugas hidupnya sebagai hamba Allah dan khalifah dimuka bumi.[6]
Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat menjalani hidupnya tanpa bermasyarakat. Dengan hidup bermasyarakat manusia dapat saling membantu dalam memenuhi kebutuhannya, sehingga kebahagiaan yang menjadi tujuan hidupnya dapat dicapai. Akan tetapi manusia tidak akan dapat hidup tenteram dan bahagia apabila kondisi akhlak masyarakatnya tidak baik.
Untuk menciptakan kondisi masyarakat yang baik tidak cukup hanya membuat dan memberlakukan peraturan dan undang-undang. Walaupun diadakan pengawasan ketat terhadap masyarakat agar memenuhi seluruh peraturan dan undang-undang yang berlaku tapi masih saja ada pelanggaran yang dilakukan oleh sebagian masyarakat, seperti pelanggaran lalu lintas, tindak kejahatan, korupsi dan sebagainya. Bentuk-bentuk kejahatan tersebut dapat dicegah apabila setiap orang memiliki akhlak yang baik.[7]
3.      Gagasan Pendidikan Anak Perspektif Imam Al-Ghazali
Akhlak adalah termasuk permasalahan terpenting dalam kehidupan ini. Tingkatannya berada setelah iman. Kita beriman dan beribadah kepada Allah SWT adalah antara hamba dan Tuhannya, atau hubungan antara makhluk dengan Sang Khaliq. Sedangkan akhlak adalah hubungan dalam bermuamalah dan bermusyarokah sesama manusia, juga mengatur hubungan manusia dengan segala yang terdapat dalam wujud dan kehidupan.[8]
Oleh karena itu Imam al-Ghazali berpendapat bahwa cara yang terbaik untuk memiliki budi pekerti yang utama adalah dengan melalui asuhan dan latihan-latihan melaksanakan sifat-sifat yang baik. Anak-anak dilatih dan dibisakan membantu orang tua dilingkungan keluarga, membantu orang lemah dan menolong masyarakat Imam al-Ghazali menganjurkan supaya sifat angkuh dan sifat buruk dilenyapkan dari seseorang dengan latihan-latihan dan praktek yang bertentangan.
Sungguh sangat berarti yang disarankan Imam al-Ghazali dalam upaya menyuburkan akhlak yang mulia, terutama anak-anak, di mana harus melalui ajaran dan pekerjaan atau lewat teori dan praktek, disamping memberikan contoh yang baik dalam pergaulan.
Karenanya tingkah laku yang buruk dan sifat-sifat jahat bila menjadi adat kebiasaan bagi anak-anak, akan sukar merubahnya sekaligus kepada tingkah laku yang terpuji. Adat dan kebiasaan itu sendiri telah membuat sifat jahat menyusup ke dalam hati anak-anak. Imam al-Ghazali menyarankan agar tabi’at-tabi’at yang jahat dialihkan lebih dahulu kepada sifat-sifat yang kurang jahat, kemudian secara bertahap dan bertingkat dipindahkan kepada sifat-sifat yang baik.
Imam Ghazali mengatakan: “Apabila anak itu dibiasakan untuk mengamalkan amal yang baik, diberi pendidikan kearah itu, pastilah ia akan tumbuh di atas kebaikan tadi akibat positifnya ia akan selamat sentosa di dunia dan akhirat. Kedua orang tuanya dan semua pendidik, pengajar serta pengasuhnya ikut serta memperoleh pahalanya. Sebaliknya jika anak itu sejak kecil sudah dibiasakan mengerjakan keburukan dan dibiarkan begitu saja tanpa dihiraukan pendidikan dan pengajarannya, yakni sebagaimana halnya seorang yang memelihara binatang, maka akibatnya anak itupun akan celaka dan rusak binasa akhlaknya, atau pendidiknya yang bertanggung jawab untuk memelihara dan mengasuhnya.”[9]
Berikut di bawah ini adalah rincian dari pendidikan akhlak bagi anak menurut Imam al-Ghazali:
A.      Kesopanan dan Kesederhanaan dalam Makan
Dalam hal ini Imam al-Ghazali mengatakan: “Yaitu memulai dengan membaca basmalah pada awal makan itu, dan di akhirnya membaca alhamdalah. Seandainya pada setiap suapannya itu ia mengucapkan basmalah maka itu baki sehingga kerakusan tidak menyibukkannya dari mengingat Allah SWT. Selalu makan dengan tangan kanan, dan mengecilkan suapannya dan baik-baik dalam mengunyahnya. Jangan mencela sesuatu yang dimakan, dan agar memakan apa yang ada didekatnya dan sebagainya.
Dari hal diatas Imam al-Ghazali menjelaskan secara rinci, bahwa salah satu hal yang biasa terjadi pada anak-anak adalah mempunyai sifat rakus makan, maka inilah yang harus diluruskan. Nilai-nilai pendidikan yang tertanam pada anak sewaktu makan antara lain:
·         Dalam keadaan anak makan bersama keluarga akan tertanam rasa bersatu antara keluarga dan rasa hormat kapada orang yang lebih dewasa.
·         Anak dibiasakan menghargai milik orang lain sebagaimana orang lain itu menghargai miliknya serta sebagai latihan bekerjasama dengan orang lain.
·         Anak dapat makan sendiri, dan memiliki rasa percaya diri.
·         Orang tua dapat menghormati bagaimana sikap anak pada waktu makan.
B.      Kesopanan dan Kesederhanaan dalam Berpakaian
Imam al-Ghazali mengatakan dalam hal ini: “Dan jika kelihatan ada yang menonjol pada murid itu, kebersihan pada badan dan pakaian dan kelihatan hatinya condong pada yang demikian.” Dari keterangan diatas dapat diambil pelajaran bahwa Imam al-Ghazali menjelaskan kepada orang tua, agar anak-anak mereka suka berpakaian yang putih dan bersih, dan menjelaskan kepada anak-anak agar jangan berhias yang tidak sepatutnya, atau apa saja yang mengindikasikan pemborosan. Apabila hal ini dilakukan oleh anak, nantinya ia hanya akan mencari kesenangan semata dan berbuat keborosan disaat dia beranjak dewasa, akhirnya ia menjadi rusak dalam kesenangan duniawi, dan menghalalkan segala cara.[10]
Islam bukanlah sekedar suatu formalitas ritual, Islam adalah proses ketaatan terhadap aturan yang telah ditetapkan oleh Allah berkenaan dengan hubungan antar manusia dengan Dia, dan hubungan antar sesama manusia, baik dalam urusan keluarga, politik ekonomi, pendidikan. Dan sifat jelek seperti boros, suka bersenang-senang, dll. Mempunyai pengaruh negatif terhadap pengembangan jiwanya dan harus ditangani secara serius, anak harus segera diluruskan dengan dikenalkan secara dini dengan aturan-aturan yang sangat bijaksana sesuai yang ditetapkan Allah dan Rasulullah.[11]
C.      Kesopanan dan Kesederhanaan dalam Tidur
Imam al-Ghazali berkata: “Dan latihan itu ada empat cara: Yaitu kekuatan yang berada dari makanan, memejamkan mata dari tidur, perkataan yang seperlunya dan menahan rasa sakit dari semua manusia, dari sedikit makan, terjadilah mati nafsu syahwat, dari sedikit tidur bersihkanlah semua kehendak.”
Dari penjelasan tersebut diatas, dapat dipahami bahwa kedua orang tua melarang anak-anak tidur pada waktu siang, sebab hal tersebut banyak menimbulkan kemalasan bekerja dan lain-lain, tetapi pada malam hari anak-anak harus diperintahkan untuk tidur dan jangan biasakan mereka tidur diatas kasur yang empuk-empuk atau alat-alat tidur yang serba mewah. Hal semacam itu dipandang kurang baik, karena anggota badan anak-anak akan kaku dan menjadikan mereka malas.
D.      Kesopanan dalam Berdisiplin
Imam al-Ghazali sangat mengutamakan kedisiplinan bagi anak-anak untuk menghindarkan perbuatan yang tidak pantas dipandang umum dan membiasakan anak-anak untuk berbuat hal yang patut sesuai dengan norma-norma masyarakat yang berlaku.
Imam al-Ghazali menyarankan agar kedua orang tua mengajarkan anak-anaknya, bagaimana duduk yang baik, hendaklah dilarang meletakkan kaki yang satu diatas kaki yang lainnya, demikian pula meletakkan tangan dibawah dagu atau menyandarkan tangan diatas tangan kanan, sebab semua itu dianggapnya sebagai tanda-tanda kemalasan. Imam al-Ghazali juga mengajarkan sopan santun dan disiplin waktu duduk, sekaligus untuk menghindarkan sikap malas bagi anak-anak, agar mereka rajin belajar dan giat bekerja.[12]
 
KESIMPULAN
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan pada bagian terdahulu tentang pendidikan akhlak anak menurut pandangan Imam al-Ghazali, maka penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut:
1.      Gagasan Imam al-Ghazali tentang pendidikan akhlak anak adalah merupakan sikap yang tertanam dalam jiwa yang melahirkan perbuatan-perbuatan tertentu secara konstan dan spontan.
2.      Metode pendidikan akhlak pada anak dilingkungan keluarga menurut Imam al-Ghazali adalah selalu menggunakan prinsip hikayat (historikal method)
3.      Dan selalu menggunakan pembiasaan dalam proses pendidikan akhlak anak.
PESAN DAN KESAN
Dari beberapa kesimpulan diatas, maka penulis mengemukakan saran berikut:
1.      Untuk merealisasikan gagasan tersebut, diperlukan orang tua yang pandai dalam memilih metode yang efektif dan tepat, yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak.
2.      Metode yang dipaparkan oleh Imam al-Ghazali hendaklah dikembangkan sesuai dengan berkembangnya ilmu pengetahuan.
3.      Orang tua harus membina suasana keluarga seharmonis mungkin, serta dapat menciptakan suasana edukatif, karena lingkungan keluarga adalah lembaga pendidikan yang pertama bagi seorang anak.
4.      Anak- anak seharusnya semenjak kecil sudah dibiasakan dengan pendidikan yang baik, khususnya pendidikan akhlak, karena nilai-nilainya akan berimbas terhadap pembentukan kepribadiannya.
DAFTAR PUSTAKA
Ghazali Imam. Ihya ‘Ulumuddin (Ringkasan) Upaya menghidupkan Ilmu Agama. Surabaya: Bintang Usaha Jaya.
Hermawan dan Koestana, Jitet. Al-Ghazali bag-4.  Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. 1997.
Ihsan, Hamdani dan Ahmad Fuad Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam, CV Pustaka Setia, Bandung: 2001.
Nata, Abuddin. Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam seri kajian Filsafat Pendidikan Islam, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta:2003.
Ramayulis dan Nizar, Samsul. Ensiklopedia Tokoh Pendidikan Islam, Ciputat Press Group, Ciputat:2005.
Suhid Asmawati. Pendidikan Akhlak dan Adab Islam: Konsep dan Amalan. Malaysia: Utusan Publications. 2009.
Zainuddin. Seluk Beluk Pendidikan dari Al-Ghazali, Bumi Aksara, Jakarta:1991.
 


[1] Zainuddin dkk. Seluk beluk Pendidikan dari Al-ghazali, Jakarta: Bumi Aksara,1991. Hal. 51
[2] Hermawan dan Jitet Koestana. Al-Ghazali bag-4.  Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. 1997.
[3] Ibid.
[4] Ibid.
[5] Imam Ghazali. Ihya ‘Ulumuddin (Ringkasan) Upaya menghidupkan Ilmu Agama. Surabaya: Bintang Usaha Jaya. Hal. 19
[6] Asmawati Suhid. Pendidikan Akhlak dan Adab Islam: Konsep dan Amalan. Malaysia: Utusan Publications. 2009. Hal. 80
[7] Ibid.
[8] M. Abdul Mujieb dkk: 2009: 38
[9] Imam Ghozali. Kitab Riyadhatun Nafs, Ihya Ulumuddin. Juz III
[10] Ibid.
[11] Ibid.
[12] Ibid.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar